8 Alasan Penting Mengapa Ibu Harus Menyusui Si Kecil

8 Alasan Penting Mengapa Ibu Harus Menyusui Si Kecil

Menyusui merupakan proses alami yang akan dilalui setiap ibu setelah proses melahirkan. Dengan menyusui, kebutuhan nutrisi bayi akan terpenuhi sejak awal kehidupannya. Terlebih lagi, Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi paling ideal untuk menunjang kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan bayi secara optimal. Disisi lain, karena beberapa kendala banyak bunda yang kesulitan dalam memberikan ASI. Meski begitu, bunda harus tetap optimis bahwa bunda bisa menyusui. Agar lebih yakin, yuk simak 8 alasan penting mengapa bunda harus menyusui dan kapan bunda boleh tidak menyusui di artikel ini!

8 Alasan Mengapa Ibu Harus Menyusui

Melansir dari laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), berikut ini beberapa alasan mengapa bunda harus menyusui Si Kecil:

Menyusui Bagi Bayi

1. Penting untuk sistem kekebalan tubuh bayi

Kolostrum yaitu cairan berwarna kekuningan yang keluar dari payudara bunda pertama kali merupakan cairan yang kaya akan antibodi (zat kekebalan tubuh). Antibodi ini sangat bermanfaat untuk bayi karena dapat melindungi saluran cerna bayi dari kuman yang masuk. Hal ini karena sistem kekebalan bayi belum matang dan belum berfungsi dengan baik. Dengan menyusui, bunda bisa memberikan perlindungan terbaik bagi bayi melalui kolostrum dan ASI yang keluar.

2. ASI untuk perkembangan intelektual anak

Kajian ilmiah mengungkapkan bahwa menyusui dapat mempengaruhi perkembangan intelektual anak. Alasannya karena ketika menyusui, bunda bisa memberikan pelukan erat dan rasa nyaman yang berpengaruh pada perkembangan emosi anak. Dimasa depan, anak yang disusui akan memiliki kecerdasan dan emosi yang lebih matang dibanding anak yang tidak disusui. Dan ini sangat berpengaruh pada kehidupan sosialnya di masyarakat. Beberapa publikasi penelitian tentang efek menyusui terhadap IQ bayi juga memperlihatkan bahwa bayi ASI mempunyai nilai IQ 3-5 lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapat susu formula.

3. ASI menjaga kesehatan saluran cerna bayi

Tahukah Bunda? ASI lebih mudah dicerna bayi dibandingkan susu formula. Dengan begitu kesehatan saluran cerna bayi akan tetap terjaga. Terlebih lagi, proses pematangan saluran cerna bayi juga distimulasi oleh ASI. Selain itu, bayi yang mendapat ASI mempunyai daya tahan tubuh alami yang lebih kuat. Hal ini karena saluran cerna bayi yang mendapat ASI mengandung bakteri baik yang dapat mencegah pertumbuhan organisme yang merugikan. Sehingga mempunyai efek terhadap peningkatan sistem kekebalan tubuh.

4. Memperkuat hubungan bunda dengan bayi

Para ahli psikologi meyakini bahwa bayi dapat menikmati rasa aman, kehangatan, keberadaan dan juga kontak kulit dengan bunda selama menyusui. Perasaan ini tidak dapat diperoleh bayi yang mendapatkan susu botol. Oleh karena itu, menyusui merupakan bagian penting dalam memperkuat hubungan/ikatan emosi antara bayi dengan bunda.

Menyusui Bagi Ibu

5. Menyusui lebih praktis dibanding susu formula

Dibanding memberikan sufor, menyusui secara langsung dapat meringankan beban bunda selama mengasuh Si Kecil. Alasannya karena bunda tidak perlu membeli susu formula, tidak repot membuat susu dan mensterilkan botol.

6. Mengurangi risiko infeksi setelah melahirkan

Menyusui secara eksklusif selama 6 bulan juga dapat meningkatkan kadar antibodi didalam sirkulasi darah bunda. Dengan begitu dapat mengurangi risiko terjadinya infeksi setelah melahirkan.

7. Membantu rahim kembali ke ukuran semula sebelum hamil

Menyusui dapat merangsang uterus (rahim) untuk berkontraksi agar dapat kembali ke ukurannya semula sebelum hamil. Dengan demikian dapat membantu mengurangi perdarahan setelah melahirkan.

8. Kontrasepsi alami

Dilaporkan juga bahwa menyusui memiliki peran sebagai salah satu cara kontrasepsi alami. Hal ini karena selama menyusui, proses ovulasi (lepasnya sel telur) akan tertekan, sehingga kemungkinan hamil selama menyusui lebih kecil.

Kapan Ibu Boleh Tidak Menyusui?

Pada kondisi tertentu, beberapa bunda memang tidak dianjurkan untuk memberikan ASI secara eksklusif. Yaitu jika bunda:

  1. Sedang menjalani kemoterapi untuk kanker
  2. Mengonsumsi obat-obatan yang dilarang seperti kokain atau mariyuana
  3. Positif mengidap penyakit HIV
  4. Bayi bunda mengidap penyakit galactosemia. Yaitu kondisi dimana tubuh bayi tidak dapat menerima gula alami seperti galaktosa yang terdapat pada ASI.
  5. Bunda sedang dalam masa pengobatan yang mengharuskan minum obat. Contohnya seperti penyakit Parkinson, Arthritis atau Sakit Kepala/Migrain.
  6. Mengidap tuberkolosis aktif yang belum ditangani.

Referensi: idai.or.id, ibupedia.com

Yakin ASI Si Kecil Sudah Tercukupi? Yuk, Cek 8 Tanda-tanda Bayi Cukup ASI Berikut Ini.

Yakin ASI Si Kecil Sudah Tercukupi? Yuk, Cek 8 Tanda-tanda Bayi Cukup ASI Berikut Ini.

ASI saya cukup gak ya? Mungkin banyak bunda yang memiliki pertanyaan serupa. Kecemasan akan kurangnya ASI muncul seiring dengan bertambahnya kesadaran bunda tentang pentingnya ASI.  Karena setiap bunda tentu ingin memberikan yang terbaik bagi buat hatinya. Salah satunya dengan berhasil memberikan ASI eksklusif. Nah, agar bunda tidak cemas lagi, bunda juga perlu tahu tanda-tanda bayi cukup ASI serta tanda-tanda bahaya pada bayi. Apa saja tanda-tandanya? Simak penjelasan di artikel ini ya bund.

Pentingnya ASI

ASI merupakan nutrisi terbaik bagi bayi. Hal ini karena ASI mengandung semua zat gizi dan zat kekebalan tubuh yang sangat dibutuhkan bayi. Terutama karena pada tahun pertama kehidupannya, sistem kekebalan tubuh bayi belum sepenuhnya berkembang. Sehingga bayi belum bisa melawan infeksi seperti orang dewasa.

Kandungan zat kebebalan pada ASI sangat berguna untuk melindungi bayi dari infeksi. Terlebih, fakta dilapangan menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan ASI eksklusif lebih jarang sakit dibanding bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif. Jadi, selalu pastikan Si Kecil mendapatkan ASI yang cukup ya bund.  

Tanda Bayi Cukup ASI

  1. Bayi tampak puas setelah menyusu dan seringkali tertidur saat menyusu
  2. Frekuensi buang air kecil (BAK) bayi lebih dari 6 kali sehari
  3. Urin berwarna jernih dan tidak berwarna kekuningan
  4. Frekuensi buang air besar (BAB) lebih dari 4 kali sehari
  5. Tinja pertama bayi (mekonium) keluar dalam 24 jam pertama setelah lahir
  6. Setelah berumur 5 hari, tinja bayi berwarna kekuningan dengan butiran-butiran berwarna putih susu.
  7. Berat badan bayi tidak turun lebih dari 10% dibanding berat lahir
  8. Berat badan bayi kembali seperti berat lahir pada usia 10-14 hari setelah lahir.

Kenali Juga Tanda-tanda Bahaya Pada Bayi

  1. Bayi rewel, menangis dan gelisah terus menerus
  2. Urin berwarna merah bata pada popok setelah hari ke-5
  3. Bayi buang air kecil (BAK) kurang dari 6 kali dalam sehari setelah hari ke-5
  4. Mekonium masih keluar pada usia 4 atau 5 hari
  5. Bayi usia 5-21 hari tidak buang air besar selama 24 jam
  6. Tinja bayi berwarna coklat dan sedikit
  7. Kehilangan berat badan lebih dari 7% atau lebih dalam 3 hari pertama

Tips Agar Berhasil Memberikan ASI Eksklusif

  1. Menyusui on demand (sesuai permintaan bayi) dan membangunkan bayi setiap 2 jam untuk menyusu
  2. Menyusui sesering mungkin, minimal 8-12 kali sehari
  3. Tidak memberikan asupan lain selain ASI
  4. Tidak memberikan dot/empeng karena dapat menyebabkan bayi bingung puting
  5. Pelajari teknik menyusui yang benar, baik posisi maupun cara pelekatan bayi yang benar agar payudara dapat dikosongkan dengan optimal.
  6. Perhatikan berat badan bayi pada hari-hari pertama setelah kelahirannya. Bila penurunan terlalu banyak, dapat dibantu dengan memerah ASI dan memberikannya langsung ke bayi. Sambil terus berlatih menyusui.

Referensi: idai.or.id, aimi-asi.org

Penting! Inilah 6 Rahasia Agar ASI Cepat Keluar Setelah Melahirkan

Penting! Inilah 6 Rahasia Agar ASI Cepat Keluar Setelah Melahirkan

Setelah melahirkan, tugas selanjutnya yang harus bunda lakukan adalah menyusui Si Kecil. Pada beberapa bunda, ASI akan segera keluar sesaat setelah melahirkan. Namun pada sebagian bunda, ASI hanya sedikit atau bahkan tidak keluar sama sekali. Tentu hal ini membuat bunda khawatir. Tapi jangan panik dulu ya bund. Pada umumnya, produksi ASI akan lancar setelah 2-3 hari setelah melahirkan. Oleh karena itu, bunda bisa melakukan beberapa tips agar ASI cepat keluar, berikut ini. Sebelum itu, yuk simak dulu penyebab ASI sulit keluar ya bund.

Penyebab ASI Sulit Keluar

Sebagai ibu baru, beberapa bunda mungkin merasa khawatir jika ASI-nya sedikit atau kurang. Padahal stress bisa jadi alasan utama produksi ASI yang rendah lho bund. Karena ketika bunda stress, hormon oksitosin ditubuh bunda akan menurun. Sedangkan hormon oksitosin sangatlah penting untuk memproduksi ASI. Maka dari itu, selama menyusui usahakan untuk bahagia dan hindari stress ya bund. Dengan begitu hormon oksitosin akan meningkat dan produksi ASI menjadi lancar.xc

Sudah menjadi keharusan untuk ibu hamil menjaga asupan nutrisinya selama kehamilan. Akan tetapi beberapa bunda mungkin kurang mengonsumsi makanan bergizi tinggi serta buah dan sayur-sayuran sehingga produksi ASI-nya sedikit. Karena produksi ASI juga sangat dipengaruhi makanan yang dikonsumsi bunda. Semakin baik nutrisinya, maka bunda dapat menghasilkan ASI yang deras dan berkualitas.

Tahukah bunda? Secara ilmiah, ASI sudah mulai diproduksi ketika masa kehamilan 6-8 bulan. Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh hormon prolaktin dan oksitosin. Akan tetapi, hormon progesteron akan menekan kedua hormon tersebut hingga bunda melahirkan. Hal ini karena hormon oksitosin akan merangsang rahim untuk kontraksi. Setelah bunda melahirkan, hormon progesteron akan menurun dan hormon prolaktin dan oksitosin akan  meningkat untuk merangsang produksi ASI.

Beberapa ibu menyusui mulai menggunakan alat kontrasepsi setelah bayi lahir. Padahal banyak alat kontrasepsi yang beredar memiliki kandungan hormon estrogen yang tinggi. Hal ini membuat keseimbangan hormon bunda terganggu. Akhirnya membuat produksi ASI juga ikut terganggu. Oleh sebab itu, jika bunda sedang menyusui, sebaiknya hindari penggunaan alat kontrasepsi ini ya bund.

6 Rahasia Supaya ASI Cepat Keluar Pasca Melahirkan

Berikut ini beberapa cara yang bisa bunda lakukan agar ASI lancar dan cepat keluar setelah melahirkan.

1. IMD (Inisiasi Menyusui Dini)

Merupakan kegiatan yang sangat dianjurkan ketika ibu baru saja melahirkan. IMD dilakukan sekitar 30 menit setelah melahirkan. Yaitu dengan cara meletakan bayi diatas tubuh ibu. IMD bermanfaat untuk merangsang produksi ASI cepat keluar secara alami. Hal ini karena bayi akan memberikan rangsangan pada payudara dengan hisapannya.

2. Bedding In (Satu tempat tidur)

Dilakukan dengan cara meletakkan bayi diranjang yang sama dengan ibu. Cara ini efektif untuk membuat ASI cepat keluar karena memudahkan bayi menyusu secara langsung.

3. Pijak laktasi dan oksitosin

Ibu yang baru melahirkan biasanya akan mengalami payudara bengkak karena terisi ASI. Meski demikian, bunda perlu memijat payudara agar aliran ASI menjadi lancar. Caranya adalah dengan memijat payudara dengan arah memutar dan menjauhi payudara.

Selain pijat pada payudara, bunda juga bisa melakukan pijat oksitosin. Yaitu pijat yang dilakukan pada punggung ibu menyusui dan dibantu oleh ayah. Dengan begitu, hormon oksitosin akan meningkat dan produksi ASI menjadi lancar.

4. Rutin menyusui

Seperti dijelaskan diartikel sebelumnya, prinsip produksi ASI adalah supply dan demand. Yakni semakin banyak ASI dikeluarkan atau dikosongkan, maka produksi ASI akan semakin meningkat. Maka dari itu, rajin-rajinlah menyusui Si Kecil ya bund.

5. Rileks

Melahirkan memang proses yang melelahkan dan kadang menimbulkan stress. Oleh karenanya dapat mempengaruhi proses produksi ASI bunda. Usahakan agar selama menyusui, bunda dalam kondisi yang rileks dan bahagia ya. Dengan begitu, tubuh akan melepas hormon oksitosin yang dapat membuat ASI cepat keluar.

6. Jaga asupan makanan

Cara terakhir agar ASI cepat keluar yaitu dengan memenuhi kebutuhan  nutrisi selama menyusui. Misalnya seperti kebutuhan kalori, protein, karbohidrat, kalsium serta zat gizi lainnya. Jika bunda khawatir tidak bisa memenuhi semua nutrisi diatas, bunda juga bisa mengonsumsi pelancar ASI seperti Lactamond. Karena Lactamond mengandung semua gizi penting yang bunda butuhkan untuk memproduksi ASI yang deras dan berkualitas.

5 Cara Mudah Tingkatkan ASI Secara Alami dan Efektif

5 Cara Mudah Tingkatkan ASI Secara Alami dan Efektif

Memiliki produksi ASI yang melimpah pasti menjadi impian setiap bunda. Sayangnya, tidak semua bunda beruntung memiliki ASI yang deras setelah melahirkan. Sedikitnya produksi ASI akhirnya membuat ibu menyusui merasa sedih dan stress. Khawatir jika Si Kecil akan kekurangan ASI. Oleh karena itu, banyak ibu muda yang belum tahu cara memperbanyak ASI, memilih untuk memberikan susu formula (sufor). Padahal susu formula semahal apapun tidak dapat menandingi kandungan nutrisi pada ASI. Lalu, bagaimana cara mudah tingkatkan produksi ASI secara alami dan efektif? Simak ulasannya berikut ini.

Cara Meningkatkan Produksi ASI secara Alami

1. Cukupi kebutuhan cairan

Tahukah bunda? Komposisi tertinggi yang ada pada ASI adalah air, yaitu sekitar 90%. Jadi, salah satu cara meningkatkan produksi ASI yang efektif adalah dengan mencukupi kebutuhan cairan hariannya. Minumlah air minimal 8 gelas sehari atau lebih bergantung kebutuhan masing-masing bunda. Dengan tetap terhidrasi maka bunda tetap dapat memproduksi ASI yang melimpah.

2. Hindari stress

Stress atau cemas selama menyusui dapat mempengaruhi produksi ASI. Maka dari itu, untuk memiliki ASI yang melimpah ibu menyusui harus menghindari atau mengurangi tingkat stressnya. Karena stress yang berlebih akan mengurangi nutrisi dan mineral yang ada pada tubuh ibu. Akibatnya, ASI tidak dapat terbentuk dengan sempurna. Cara yang bisa bunda lakukan untuk mengurangi stress yaitu dengan:

  • Melakukan relaksasi
  • Istirahat yang cukup
  • Menjaga kesehatan mental agar terhindar dari depresi pasca melahirkan.

3. Hindari penggunaan dot/botol

Sebagian bunda bermudah-mudahan untuk memberikan ASI melalui dot/botol. Apalagi bunda karir yang harus pergi ke kantor dan meninggalkan Si Kecil dirumah. Akan tetapi, sudahkah bunda tahu, jika penggunaan dot/botol tidak dianjurkan untuk bayi. Alasannya karena dot/botol dapat memberikan dampak buruk pada bayi maupun produksi ASI bunda, seperti:

  • Bayi mengalami bingung puting
  • Membuat bayi malas menghisap karena aliran susu dari botol lebih kencang
  • Produksi ASI menurun karena payudara bunda kurang mendapat rangsangan hisapan bayi
  • Dapat mengganggu pertumbuhan/struktur gigi Si Kecil dimasa mendatang

4. Menyusui secara eksklusif

Menambahkan susu formula selama menyusui dapat mengganggu proses alami produksi ASI. ASI diproduksi berdasarkan prinsip supply and demand (penawaran dan permintaan). Artinya, semakin banyak ASI disusukan, maka produksinya akan semakin banyak. Begitu pula sebaliknya. Jadi cara selanjutnya untuk meningkatkan ASI adalah dengan terus menyusui secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun.

Daripada memberikan tambahan susu formula, akan lebih baik jika bunda mencoba untuk mengonsumsi pelancar ASI. Selain itu, agar produksi ASI tetap lancar, bunda juga bisa rutin mempompa ASI disela-sela sesi menyusui langsung.  

5. Penuhi asupan nutrisi

Cara terakhir untuk meningkatkan produksi ASI adalah dengan memperhatikan asupan gizi dan nutrisi bunda. Bagaimanapun, produksi ASI juga sangat dipengaruhi oleh asupan makanan yang bunda konsumsi. Terlebih lagi, ibu menyusui butuh ekstra 500 kalori lebih tinggi untuk dapat menghasilkan ASI.

Selanjutnya, bunda juga bisa mengonsumsi makanan yang bersifat galaktagog. Yaitu makanan yang dapat membantu melancarkan ASI, seperti:

  • Gandum
  • Almond
  • Kedelai
  • Kacang hijau
  • Madu
  • Ekstrak malt

Itulah beberapa cara mudah untuk meningkatkan produksi ASI secara alami dan efektif. Bunda juga bisa mengonsumsi susu Pelancar ASI seperti Lactamond. Susu nabati yang terbuat dari kacang-kacangan alami serta kolagen ikan yang dapat membantu meningkatkan kualitas serta kuantitas ASI bunda. ASI lancar kini bukan hanya impian saja.

 

Referensi: gentlenursery.com, verywellfamlily.com

4 Penyebab Umum Bayi Gumoh serta Cara Mengatasinya

4 Penyebab Umum Bayi Gumoh serta Cara Mengatasinya

Pernahkah bayi bunda mengalami gumoh? Sebagian bunda mungkin merasa khawatir jika Si Kecil sering mengalami gumoh. Terlebih bagi ibu baru. Namun, sebaiknya jangan panik dulu ya bund. Gumoh sebenarnya umum dialami bayi dan bukan hal yang berbahaya. Gumoh adalah keluarnya cairan susu atau makanan dari lambung yang baru saja ditelan bayi. Dalam istilah medis, gumoh disebut juga refluks. Nah, agar bunda tidak khawatir, mari cari tahu apa saja penyebab bayi mengalami gumoh serta cara mengatasinya. Dengan begitu, bunda tidak akan panik ketika Si Kecil mengalami gumoh.  

Gumoh merupakan kondisi yang dianggap normal terjadi pada bayi yang baru lahir. Hal ini terjadi karena organ cerna bayi seperti kerongkongan dan lambungnya belum bekerja secara optimal. Biasanya gumoh akan berangsur hilang seiring dengan bertambahnya usia Si Kecil, yakni hingga sekitar usia 1 tahun.

Meskipun begitu, jika bayi terlalu sering mengalami gumoh dan bahkan berulang setiap jam, maka bunda harus lebih waspada.

Perbedaan antara Gumoh dengan Muntah

Beberapa bunda mungkin bingung untuk membedakan antara gumoh dan muntah pada bayi. Kedua hal ini ternyata berbeda lho bund. Muntah terjadi ketika ada dorongan dan kontraksi yang kuat dari otot lambung untuk mengeluarkan isi lambung. Sedangkan gumoh terjadi ketika cairan mengalir keluar tanpa adanya tekanan dari lambung bayi.

Terkadang gumoh juga terjadi bersamaan ketika bayi bersendawa. Dan hal ini tidak mengapa jika tidak membuat bayi rewel dan merasa tidak nyaman.

Penyebab Umum Bayi Gumoh

Selain karena organ pencernaan bayi yang belum sempurna, gumoh juga dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini:

  1. Bayi berada dimasa peralihan MPASI. Dimana bayi akan beradaptasi dengan tekstur makanan yang lebih padat. Pada masa ini kemungkinan bayi mengalami gumoh akan lebih sering.
  2. Bayi terlalu bersemangat minum ASI. Gumoh bisa terjadi karena ASI yang masuk terlalu banyak sedangkan ukuran lambungnya masih kecil. Jadi bunda perlu memperhatikan agar bayi tidak terlalu banyak minum ASI.
  3. Cegukan juga bisa membuat bayi mengalami gumoh.
  4. Kebiasaan bayi yang terus bergerak saat menyusu atau makan dapat membuat perut mengalami tekanan yang tinggi. Sehinga bayi mengalami gumoh.

Tanda Gumoh yang Normal

Pada umumnya, bayi yang gumoh mengeluarkan cairan ASI atau makanan berbentuk cair. Berikut ini merupakan tanda gumoh yang normal pada bayi.

  • Bayi tetap merasa nyaman dan tidak rewel
  • Bayi masih mau makan dan menyusu
  • Bayi tidak alami kesulitan dalam bernapas
  • Berat badan bayi normal

Tanda Gumoh yang Membahayakan Bagi Bayi

Selain penyebab serta tanda gumoh yang normal pada bayi, bunda juga perlu mengetahui kebiasaan gumoh yang berisiko membahayakan bayi, seperti:

  • Bayi masih sering gumoh meski sudah berusia lebih dari 1 tahun
  • Perut bayi terlihat membesar disertai demam lebih dari 38 derajat Celcius
  • Berat badan bayi tidak bertambah
  • Bayi terlihat kesulitan bernapas
  • Bayi rewel, menangis dan tidak nyaman
  • Cairan yang keluar dari mulut bayi tergolong banyak
  • Frekuensi gumoh lebih sering
  • Cairan gumoh yang keluar berwarna hijau, kuning atau merah
  • Bayi mengalami dehidrasi

Jika mengalami tanda-tanda gumoh seperti diatas, maka kemungkinan bayi mengalami masalah pada sistem pencernaannya. Segera periksakan bayi ke dokter spesialis anak untuk mengetahui penyebab serta cara menanganinya ya bund.

Bagaimana Cara Mengatasi Gumoh Pada Bayi?

Berikut ini beberapa tips yang bisa bunda lakukan untuk mengatasi gumoh pada bayi.

Pastikan bayi dalam posisi tubuh lebih tegak saat makan atau menyusu, agar makanan lebih cepat turun ke saluran pencernaan. Pertahankan posisi ini 20-30 menit setelah menyusui.

Jika bayi sudah tampak kenyang, maka hentikan sesi menyusui agar ASI yang masuk tidak berlebihan. Bunda sebaiknya memberikan makanan atau susu dalam jumlah sedikit namun dengan frekuensi yang lebih sering.

Setelah sesi makan atau menyusui bayi selesai, usahakan untuk memberi jeda selama 30 menit sebelum bunda mengajak Si Kecil bermain.

Sendawa dapat membantu bayi mengeluarkan udara yang mungkin masuk kedalam lambungnya. Buatlah bayi bersendawa setiap selesai menyusu atau makan. Caranya dengan membiarkan dada dan perut bayi bersandar di dada dan pundak bunda, lalu usap punggung bayi dengan lembut.

Bila bayi sering gumoh saat tidur, usahakan posisi kepala bayi lebih tinggi dari badannya. Tapi jangan gunakan bantal untuk mengganjal kepala bayi. Cukup menggunakan kain atau busa agar kepala bayi lebih tinggi dari kaki.

Jika bayi menyusu dengan dot, usahakan ukuran dot tidak terlalu besar. Hal ini untuk menghindari susu yang keluar terlalu banyak dan membuat bayi tersedak.

Referensi: sehatq.com, ruangmom.com